JURNAL ILMU AL-QUR’AN & HADIS

EDIS. I NO. I (Juli 2009)

KARAKTERISTIK SISTEMATIKA AL-QUR’AN

(SEBUAH KAJIAN TAFSIR ISYARI)

Muslim*

Abstrak: Al-Qur’an adalah Kalamullah yang disusun oleh penulis wahyu berdasarkan tawqif dari Nabi SAW. Tawqif Nabi SAW tersebut tampaknya berdasarkan sistematis, bukan kronologis sebab jika berdasarkan kronologis maka susunan ayat Al-Qur’an urutan pertama adalah surat al-’Alaq ayat 1-5, kemudian al-Muddatstsir dan seterusnya. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa berdasarkan sistematis? Kajian ini akan menjadi menarik untuk dibahas.

Kata Kunci: Nama, surat, juz, ayat, kata, huruf, tawqifiy, sistematis, keseimbangan.

PENDAHULUAN

Setidaknya al-Qur’an mempunyai dua fungsi utama, yaitu sebagai sumber ajaran, dan bukti kebenaran kerasulan Muhammad SAW. Sebagai sumber ajaran, Al-Qur’an memberikan berbagai norma keagamaan sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Karena sifatnya memberi arah, norma-norma tersebut kemudian dinamai syari’ah, yang berarti jalan yang lurus.

Di samping sebagai sumber ajaran, al-Qur’an juga disampaikan Allah SWT untuk menjadi bukti kebenaran kerasulan Muhammad SAW, terutama bagi mereka yang menentang dakwah-dakwahnya. Bukti-bukti kebenaran tersebut dalam kajian Ulum al-Qur’an disebut mu’jizat.

Di antara mu’jizat tersebut adalah tentang keunikan susunan ayat, nama-nama dan susunan surat. Telah terjadi ijma’ atau kesepakatan para ulama, bahwa susunan atau urutan ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana terdapat dalam seluruh mushaf  yang ada sekarang adalah bersifat tawqifiy (Jalal al-Din al-Sayuthi, 1979: 172). Artinya, hal tersebut berdasarkan pada bimbingan Allah kepada Nabi Muhammad  SAW. Andaikan tidak tawqifiy, maka tentulah ayat-ayat Al-Qur’an yang dikodifikasi berdasarkan urutan atau kronologis turunnya, padahal buktinya tidak demikian, justru al-Qur’an disusun secara sistematis dan bukan kronologis.

Adapun fakta ayat-ayat al-Qur’an disusun berdasarkan sistematis bukan kronologis antara lain: pertama, ayat-ayat yang pertama kali turun tidak ditempatkan sebagai ayat yang mengawali penulisan al-Qur’an, namun ditempatkan sebagai ayat 1 sampai 5 dari surat al-‘Alaq (surat ke-96). Kedua, Tujuh ayat yang menjadi isi surat al-Fatihah ditempatkan sebagai pembukaan al-Qur’an, padahal tujuh ayat ini bukan ayat yang pertama kali diwahyukan. Ketiga, ayat yang terakhir turun ditempatkan pada ayat yang ketiga dari surat al-Maidah (surat ke-3). Begitu pula halnya urutan surat al-Qur’an. Fakta-fakta ini membuktikan bahwa penempatan setiap ayat maupun surat memiliki pesan dan maksud-maksud tersembunyi. Selain itu, peletakan ayat maupun surat memiliki fungsi dan peran masing-masing.

Dalam hal ini yang perlu dipertanyakan adalah apa hikmah pembagian al-Qur’an menjadi 30 Juz? Mengapa 114 surat?  Apakah jumlah ayat dalam setiap surat ada hubungannya dengan jumlah ayat dalam setiap surat yang lain? Apakah kata huruf-huruf hijaiyah dalam al-Qur’an itu seimbang jumlahnya? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang membutuhkan jawaban cerdas.

Tulisan ini mencoba mengungkap beberapa hal yang dipertanyakan di atas. Namun secara teoritis perlu diungkap tentang nama-nama dan urutan surat-surat al-Qur’an agar tampak hubungan dengan persoalan yang dibahas.

NAMA DAN URUTAN SURAT

Sebagian ulama cenderung menetapkan nama-nama surat dalam al-Qur’an itu bersifat tawqifiy. Artinya, Nabi SAW-lah yang mempunyai otoritas dalam menetapkan nama surat-surat al-Qur’an tersebut.

Perlu diketahui, ada 74 surat Al-Qur’an yang masing-masing memiliki satu nama saja, antara lain: Surat al-Nisa’, al-An’am, al-A’raf, Yunus, Hud, Yusuf, al-Ra’d, Ibrahim, al-Hajj, al-Mukminun, dan lain-lain (Muhammad Salim Mahaysin, [t.th.]: 76-78). Sementara itu, terdapat 40 surat yang masing-masing memiliki lebih dari satu nama. Sebagian dari nama-nama surat tersebut bersifat tawqifiy, sementara sebagian lainnya ijtihadiy. Artinya, nama-nama surat tersebut ditetapkan oleh para sahabat atau tabi’in. Demikian menurut pendapat sebagaian ulama. Surat-surat al-Qur’an tersebut antara lain:Surat al-Fatihah, dinamakan juga Umm Al-Qur’an; Fatihat al-Kitab; al-Sab’ al-Matsani; Al-Qur’an al-‘Azhim; al-Wafiyat, dan al-Kafiyat. Al-Maidah, dinamakan juga al-‘Uqud dan al-Munqizat. Al-Naml, dinamakan juga Sulaiman. Al-Shaf, dinamakan juga al-Hawariyyin (Muhammad Salim Mahaysin, [t.th.]: 76-80).

Mengenai tertib atau urutan-urutan surat Al-Qur’an, terdapat perbedaan pendapat ulama (Muhammad Salim Mahaysin, [t.th.]:  65-69). Menurut jumhur ulama seperti, Abu Bakr al-Anbari (w. 328 H), Abu Ja’far al-Nuhas (w. 328 H0, al-Thibi (w. 743 H), bahwa urutan surat itu bersifat tawqifiy, yakni sesuai petunjuk dan ketetapan Nabi SAW yang disampaikan Malaikat Jibril AS.

Adapun alasan jumhur, sebagaimana yang diungkap oleh al-Sayuthi, adalah surat-surat yang diawali dengan (حم) berurutan letaknya, demikian pula surat-surat yang diawali dengan (طس). Akan tetapi surat-surat yang diawali dengan (سبح atau   يسبح) letaknya tidak berurutan (terpisah-pisah), demikian pula surat al-Syu’ara’ dan al-Qashash yang sama-sama diawali dengan (طسم) dipisah atau diselang dengan surat al-Naml yang diawali dengan (طس), padahal surat al-Naml lebih pendek dari surat al-Qashash maupun surat al-Syu’ara’. Seandainya surat-surat Al-Qur’an itu hasil ijtihad para sahabat Nabi SAW (tidak bersifat tawqifiy), tentu surat-surat yang diawali dengan (سبح atau يسبح) diletakkan dalam mushaf secara berurutan, dan surat al-Naml diletakkan setelah surat al-Qashash (Jalal al-Din al-Sayuthi, 1979: 179).

Sedangkan sebagian ulama lain berpendapat bahwa tertib atau urutan surat-surat al-Qur’an itu merupakan hasil ijtihad para sahabat Nabi. Mereka yang berpendapat demikian antara lain, Imam Malik ibn Anas (w. 179 H), Abu Bakr al-Baqillani (w. 403), dan Abu al-Husain Ahmad ibn Faris (w. 395 H).

Adapun alasan yang mereka kemukakan adalah, tidak adanya keseragaman dalam mushaf para sahabat mengenai tertib atau urutan surat-suratnya. Seandainya surat-surat al-Qur’an itu bersifat tawqifiy, tentulah dalam mushaf para sahabat tidak terdapat perbedaan dalam hal urutan surat-suratnya. Sebagai contoh, dalam mushaf Ali ibn Abi Thalib (w. 40 H), urutan surat-suratnya sesuai dengan urutan turunnya wahyu yang diterima Nabi SAW, yaitu diawali dengan surat al-‘Alaq, dilanjutkan dengan al-Muddatstsir, Nun, al-Muzammil, al-Lahab, al-Takwir, dan selanjutnya sampai akhir surat Makkiyah, kemudian diteruskan dengan surat-surat Madaniyyah dari awal sampai akhirnya. Sementara dalam mushaf Ibn Mas’ud (w.32 H) diawali dengan surat al-Baqarah, kemudian al-Nisa’, Alu Imran, al-An’am, al-A’raf, al-Maidah, dan seterusnya (Jalal al-Din al-Sayuthi, 1979: 181).

Dari kedua pendapat di atas, penulis cenderung menyimpulkan bahwa tertib atau urutan surat-surat al-Qur’an itu terjadi ikhtilaf sebelum dikodifiasikannya al-Qur’an pada masa Khalifah Usman ibn Affan, karena masing-masing sahabat mempunyai catatan al-Qur’an secara pribadi, tentu sangat berpeluang terjadiya perbedaan, kendatipun sudah ada upaya pengumpulan al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakar yang diprakarsai oleh Zaid ibn Tsabit (Manna’ al-Qaththan, [t.th.]: 125). Namun setelah kodifikasi al-Qur’an pada masa Khalifah Usman ibn Affan, di mana ketua tim penyusun juga Zaid ibn Tsabit dibantu dengan anggotanya Abd Allah ibn Zubair, Said ibn al-Ash, Abd al-Rahman ibn al-Haris ibn al-Hisyam (Manna’ al-Qaththan, [t.th.]: 129), tidak terdapat lagi perbedaan. Karena ketika Mushaf al-Qur’an rampung dikodifikasi, Mushaf al-Imam, dan diperbanyak serta dikirim ke Makkah, Syam, Basrah, Kufah, Khalifah Usman ibn Affan menyuruh para Gubernur untuk membakar Mushaf yang dimiliki masing-masing pribadi, supaya ada keseragaman dan persatuan. Yang pasti adalah, bahwa urutan atau susunan surat-surat Al-Qur’an sebagaimana adanya sekarang ini sudah barang tentu merupakan ijma’ atau hasil kesepakatan para sahabat waktu itu, berdasarkan petunjuk Nabi SAW, termasuk Ali ibn Abi Thalib dan Ibn Mas’ud sendiri.

AL-QUR’AN 30 JUZ

Setiap masalah baik yang bersifat individu ataupun kelompok bisa dicarikan jalan keluarnya melalui Al-Qur’an. Karena ayat merupakan firman Allah SWT, maka ayat sama dengan Allah, tentu saja bukan dalam arti yang sesungguhnya, melainkan ayat merupakan manifestasi atau perwujudan bahwa Allah memiliki sifat wujud.

Tidak jarang ulama mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mikrokosmos dari alam semesta ini. Pernyataan ini sangat beralasan, sebab banyak surat dalam Al-Qur’an  yang menggambarkan tentang isi dari alam semesta ini, termasuk manusia. Misalnya al-Baqarah (sapi betina), al-Buruj (gugusan bintang), al-Thur (bukit) dan lain sebagainya.

Bahkan surat juga menggabarkan keadaan manusia dan perannya dalam kehidupan ini. Seperti keberadan manusia dalam Al-Qur’an (QS. Al-Insan) dan al-Nas. Laki-laki dan perempuan (Alu Imran dan al-Nisa’). Manusia dan perannya, seperti Yunus, Hud, Muhammad dan lain sebagainya. Manusia dan sifatnya, seperti al-mukminun, al-kafirun, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, dalam konteks ini, maka surat sama dengan makrokosmos (Gustaf Alex Adolf dan Ziyad at-Tubaniy, 2006 : 53). Jadi, hemat penulis ayat mewakili kaidah, hukum, dan peraturan, surat mewakili alam semesta, dan  juz mewakili manusia.

Ada sebuah “petunjuk” dalam Al-Qur’an, yang mengindikasikan bahwa juz mewakili manusia. Hal ini dapat dilihat bahwa setiap awal juz ditandai dengan penulisan kata الجزء pada pinggir halaman. Kalau dilihat lebih jauh, maka setiap huruf memiliki nilai. Misalnya huruf  alif dengan nomor 1, huruf  ba dengan nomor dua, dan seterusnya, seperti table di bawah ini:

TABEL URUTAN HURUF DAN NILAINYA

Nilai/Urutan Abjad Arab Bunyi Nilai/Urutan Abjad Arab Bunyi
1 ا Alif 17 ظ Zha
2 ب Ba 18 ع ‘Ain
3 ت Ta 19 غ Ghain
4 ث Tsa 20 ف Fa
5 ج Jim 21 ق Qaf
6 ح Ha 22 ك Kaf
7 خ Kha 23 ل Lam
8 د Dal 24 م Mim
9 ذ Dzal 25 ت Nun
10 ر Ra 26 و Wawu
11 ز Zai 27 ه Ha
12 س Sin 28 لا LamAlif
13 ش Syin 29 ء Hamzah
14 ص Shad 30 ي Ya
15 ض Dhad 31 ال Alif Lam
16 ط Tha 32 ة Ta Marbutah

Sumber: Adolf, Gustaf Alex dan Ziyad at-Tubaniy, h. 67

Dengan demikian nilai dari kata: ال = huruf ke 31, ج = huruf ke 5, ز = huruf ke 11, ء = huruf ke 29. Jadi 31 + 5 + 11 + 29 = 76. Timbul pertanyaan, apakah makna angka 76? Untuk mempermudah mencari jawabannya, dapat dikolerasikan angka 76 menjadi urutan surat ke-76 dalam Al-Qur’an.

Surat ke-76 adalah al-Dahr atau al-Insan, artinya manusia. Di sinilah hikmah Al-Qur’an dibagi 30, di mana juz-uz tersebut menggambarkan karakter manusia secara individu. Kelebihan dan kelemahan baik fisik maupun psikis dapat diketahui melalui juz (Gustaf Alex Adolf dan Ziyad at-Tubaniy, 2006 : 55).

Di samping ini, al-Qur’an terbagi menjadi 30 juz. Ini bertujian untuk mempermudahkan manusia membaca al-Qur’an dalam waktu 30 hari (rata-rata hari dalam bulan qamariyah 30 hari). Dengan catatan satu hari satu juz dan seterusnya. Karena membaca Al-Qur’an adalah ibadah, dalam arti perhuruf dinilai sepuluh kebaikan. Jika huruf Al-Qur’an semuanya berjumlah 323.015 (tiga ratus dua puluh tiga lima belas) huruf (M. Quraish Shihab, I, 1998: 4), maka 323.015 X 10 = 3.230.150 (tiga juta dua ratus tiga puluh ribu seratus lima puluh) kebaikan, apa lagi jika ia dibaca selama Ramadhan.

AL-QUR’AN 114 SURAT

Al-Qur’an menarik dipelajari dari sudut pandang manapun, tak terkecuali, rahasia penamaan surat, jumlah ayat, dan cara menuliskan al-Qur’an.

Surat Muhammad adalah surat yang ke- 47 = 4 + 7 = 11, jumlah ayatnya 38 = 3 + 8 = 11. Dan surat al-Mudatstsir  adalah surat yang ke- 74 = 7 + 4 = 11 jumlah ayatnya 56 = 5 + 6 = 11. Untuk  selanjutnya bila dijumlah angka 47 dengan 74 maka diperoleh 121. Tentu saja tidak ada surat ke–121. Cara termudah untuk mengartikan angka tersebut adalah dengan mengurangkannya dengan jumlah surat yaitu 121 – 114 = 7. Surat yang ke – 7 adalah surat al-A’raf. Artinya tempat-tempat yang tinggi. al-Qur’an merupakan sumber ilmu. Dengan mempelajari al-Qur’an kita akan mengetahui apa yang tidak kita tahu sebelumnya (Gustaf Alex Adolf dan Ziyad at-Tubaniy, 2006 : 61)

Kemudian, terdapat perbedaan antara penulisan Al-Qur’an (القرأن) dalam huruf Arab dengan mempergunakan hamzah atau tidak. Mana yang agak mendekati kebenaran? Jika huruf Al-Qur’an dijumlahkan dengan memakai hamzah, maka hasilnya adalah 117. secara umum jumlah ayat-ayat surat Al-Qur’an adalah 114. sehingga mencari korelasi angka 117 yang merujuk pada surat jelas tidak mungkin.

Sedangkan jika huruf Al-Qur’an ditulis tanpa memakai hamzah, maka hasilnya 88. Bila angka 88 ini dikorelasikan dengan urutan surat dalam Al-Qur’an, maka surat ke 88 adalah al-Ghasyiyah (yang dinampakkan kesalahan) dengan total ayatnya adalah 26. Secara sepintas, kedua angka tersebut tidak ada kaitannya dengan Al-Qur’an. Namun, bila angka 26 dikorelasikan menjadi urutan surat dalam Al-Qur’an, maka surat ke-26 adalah al-Syu’ara’ (para penyair). Bukankah salah satu nama Al-Qur’an adalah al-Syu’ara’? Lebih menarik lagi bila nomor surat al-Ghasyiyah (surat ke-88) ditambah dengan total ayatnya 26 hasilnya adalah 114 (88+26). Secara universal, jumlah surat Al-Qur’an adalah 114. Agaknya, lafal Al-Qur’an  yang lebih tepat adalah tidak memakai hamzah (Gustaf Alex Adolf dan Ziyad at-Tubaniy, 2006: 115 ).

Kemudian dalam shalat misalnya, ada salam ke kanan adalah fardhu dan salam ke kiri adalah sunah. Sepertinya kedua salam ini tidak bisa dipisah. Salam fardhu dengan simbol huruf hijaiyah فرض, huruf fa = huruf ke-20, huruf ra = huruf ke-10, dan huruf dhadh = huruf ke-15. Sedangkan salam sunah dengan simbol huruf hijaiyah سنة, huruf sin = huruf ke-12, huruf nun = huruf ke-25, dan huruf ta marbuthah = huruf ke-32.

Berdasarkan perhitungan di atas, maka nilai fardhu adalah 20 + 10 + 15  = 45 dan sunnah adalah 12 + 25 + 32 = 69. Sinergi keduanya 69 + 45 = 114. Dari penggambaran tersebut tentunya nilai tersebut merujuk kepada Al-Qur’an, karena jumlah surat dalam Al-Qur’an adalah 114 surat ((Gustaf Alex Adolf dan Ziyad at-Tubaniy, 2006 : 117). Artinya, seperti makna salam di atas, maka untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat, tentu saja harus kembali ke Al-Qur’an.

AYAT

Penentuan jumlah ayat pada setiap surat memiliki kekhasan tersendiri. Sebagai contoh adalah surat Muhammad. Secara tertib urutan, surat Muhammad adalah urutan ke-47 dengan jumlah ayatnya 38. Untuk memudahkan memahami, ada baiknya dilihat table:

Jumlah Ayat Nama Surat Urutan surat
38 محمد 47
3 + 8 = 11 4 + 7 = 11

Dalam hal ini sudah menunjukkan bahwa ada nilai keseimbangan, yaitu memiliki kesamaan nilai 11. Hasil penjumlahan keduanya adalah 22 (11+11). Jika urutan surat dijumlahkan dengan jumlah ayatnya adalah 47 + 38 = 85. Menariknya, jika angka 85 dijadikan sebagai urutan surat, dan angka 22 sebagai ayat, maka surat ke-85 adalah al-Buruj (gugusan bintang) dengan total ayatnya 22 (Gustaf Alex Adolf dan Ziyad at-Tubaniy, 2006: 61).

KESEIMBANGAN KATA

Kosa kata Al-Qur’an berjumlah 77.439 (tujuh puluh tujuh ribu empat ratus tiga puluh sembilan) kata (M. Quraish Shihab,  1998: I, 4), baik antara kata dengan padanannya, maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya.

Di antara contoh kata dan padanannya, al-Harts dan al-Zira’ah, artinya membajak dan bertani masing-masing 14 kali; Al-Qur’an, Wahyu dan al-Islam, masing-masing 70 kali; dan al-Jahr dan al-’Alaniyah, artinya nyata masing-masing 16 kali Di antara contoh kata dan lawan katanya, hayat terulang 145 kali sebanyak antonimnya, maut; Akhirat terulang 115 kali sebanyak kata, dunia; malaikat terulang 88 kali sebanyak kata setan; thuma’ninah i (ketenangan) terulang 13 kali sebanyak kata dhiyq (kecemasan); panas terulang 4 kali sebanyak kata dingin. Di antara contoh kata dan dampaknya Kata infaq terulang sebanyak kata yang menunjuk dampaknya yaitu ridha (kepuasan) masing-masing 73 kali; kikir sama dengan akibatnya yaitu penyesalan masing-masing 12 kali; zakat sama berkat yakni kebajikan melimpah masing-masing 32 kali. (M. Quraish Shihab, 1999: II, 30)

Adalagi keseimbangan khusus, kata yaum dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun; kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yaumaini) jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan; kata yang berarti bulan (syahr) hanya terdapat 12 kali sama dengan jumlah bulan dalam setahun (M. Quraish Shihab, 1999: II, 31)

Di antara contoh di atas membuktikan firman Allah SWT  dalam surat al-Syura [42]: 17: ”Allah menurunkan kitab Al-Qur’an dengan penuh kebenaran dan keseimbangan”

KESEIMBANGAN HURUF: ANTARA YANG BERTITIK DAN TIDAK BERTITIK

Huruf-huruf Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW sampai pada masa Khalifah Usman ibn Affan tidak bertitik dan tidak berbaris. Pada awal-awal Islam hal ini tidak menjadi persoalan karena  para sahabat yang hidup pada zaman Nabi SAW dapat meng-cross check langsung. Namun persoalan muncul pada masa Khalifah Usman ibn Affan, dimana orang ‘ajam sudah banyak memeluk Islam. Untuk mengantisipasi hal ini, pada masa Khalifah Ali ibn Abi Thalib, al-Qur’an diberi titik danbaris. Menurut penulis agaknya pada masa Khalifah Ali ibn Thalib dinamai dengan masa tahsin al-Qur’an  Patut disyukuri,  andaikata al-Qur’an pada masa khalifah Ali ibn Abi Thalib tidak diberi titik dan baris, tentu umat Islam akan kesulitan membaca al-Qur’an.

Dalam penulisan al-Qar’an rasm usmaniy harus tetap dipertahankan, di samping rasm imla’i. Kata al-shalat misalnya, dalam rasm imla’i ditulis setelah huruf shad adalah huruf lam-alif, tetapi dalam rasm usmaniy, sesudah huruf shad adalah huruf lam-waw, tetapi tetap dibaca dengan berbaris di atas. Untuk melihat keseimbangan antara huruf yang bertitik dan tidak bertitil dapat dilihat table di bawah ini:

Nilai/Urutan Abjad Arab Nilai/Urutan Abjad Arab
1 ا 1 ب
2 ح 2 ت
3 د 3 ث
4 ر 4 ج
5 س 5 خ
6 ص 6 ذ
7 ط 7 ز
8 ع 8 ش
9 ك 9 ض
10 ل 10 ظ
11 م 11 غ
12 و 12 ف
13 ه 13 ق
14 لا 14 ن
15 ء 15 ي
16 ال 16 ة

(Adolf, Gustaf Alex dan Ziyad at-Tubaniy, 2006, 68)

Dari table huruf di atas, sepintas ada kejanggalan, karena pada huruf urutan ke-16 ada huruf  ال, bukankah huruf ini pengulangan dari dari huruf alif dan lam? Hemat penulis masuknya huruf ini karena sangat berpengaruh dalam membaca al-Qur’an baik alif syamsyiah maupun qamariyah.

PENUTUP

Ternyata susunan surat dengan jumlah ayat-ayatnya tidaklah berdiri sendiri, tetapi mempunyai hubungan yang erat dan simetris. Dengan kata lain, di balik semua susunan dan kandungan Al-Qur’an pasti ada maknanya. Artinya mungkin pada mulanya rahasia Allah terkait dengan susunan al-Qur’an belum dapat disingkap, yang kemudian hari rahasia tersebut dapat diketahui sesuai menurut kadar kemampuan kemanusiaan.

Apa yang diungkap dari tulisan ini merupakan hasil ijtihad, benar tidaknya tergantung pada generasi berikut. Kritik dan saran sangat diharapkan demi kesempurnaan.

Wallahu A’lam bi al-Shawab

DAFTAR RUJUKAN

Al-A’zami, M. M. Sejarah teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi: Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Judul asli” The History of The Quranic Text From Revelation To Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments.” Jakarta: Gema Insani. 2005

Abdul Wahid, Ramli. Ulumul Qur’an. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 1994. Ed. 1. Cet. 2

Adolf, Gustaf Alex dan Ziyad at-Tubaniy. Membaca dan Memahami Kontruksi Al-Qur’an. Jakarta: Indomedia Group, 2006. cet. Ke-1.

Baidan, Nashruddin. Metodologi Penafsiran Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1998. Cet. I

Chirzin, Muhammad. Al-Qur’an dan Ulum Al-Qur’an. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa. 1998

Departemen Agama RI. Muqaddimah Al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Ferlia Citra Utama. 1995/1996

Hasanuddin AF. Anatomi Al-Qur’an: Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum dalam Al-Qur’an. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 1995. Ed. 1. Cet.1

Al-Khalidi, Shalih Abd al-Fattah. Ta’rif al-Darisin bi Manahij al-Mufassirin. Damsyiq: Dar al-Qalam. [t.th.]

Mahaysin,Muhammad Salim. Tarikh Al-Qur’an al-Karim. [T.T.]: [T. Tp]. [T.th.].

Al-Qadhi, Abdul Fattah. Tarikh Mushaf al-Syarif. Kairo: Maktabah al-Qahirah. 1999. Cet.ke-1

al-Qaththan,Manna’. Mabahits Fiy Ulum Al-Qur’an. [t.t.]: [t.tp.], [t.th.]

Shihab, M. Quraish, I, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’iy atas Persoalan Umat. Bandung: Mizan. 1998 M/1419 H. Cet. Ke-VIII.

Shihab, M. Quraish. II, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.1999. Cet. Ke-19

Shihab, M. Quraish , III, Sejarah Ulum Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1999

Al-Sayuthi, Jalal al-Din. al-Itqan fiy Ulum Al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr. 1979. Jilid I.

Zar, Sirajuddin. Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam. Sains dan Al-Qur’an. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 1997. Cet. Ke-2.

Al-Zahabi, Muhammad Husein. Penyimpangan-penyimpangan dalam Penafsiran Al-Qur’an. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 1996. Ed. 1. Cet. Ke-4

Al-Zarqani,Muhammad Abd al-Azhim. Manahil al-Irfan fi Ulum Al-Qur’an. Kairo: Dar al-Hadis. 2001.

 


* Dosen Tafsir pada Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Alumnus Program Pascasarjana (S.2) IAIN Imam Bonjol Padang.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: