JURNAL ILMU AL-QURAN & HADIS

METODE   TAFSIR MUQÂRAN  (KOMPERATIF) DAN APLIKASINYA

oleh: Rusydi AM

PENGERTIAN

Istilah tafsir muqaran merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata yaitu: tafsir dan muqaran. Tafsir secara etimologi adalah mashdar dari kata  فسّر-يفسّر-تفسيرا  yang berarti menjelaskan (الإبانة) membukakan dan mengungkapkan makna atau maksud (الإبانة وكشف المعطى) (al-Qaththan, 1973: 323). Ada juga yang berpendapat bahwa tafsir secara etimologi adalah menerangkan dan menjelaskan (Al-Dzahabi, 1976: I, 13)

Secara terminologi banyak definisi yang dikemukakan oleh ulama tafsir, walaupun redaksinya berbeda namun

substansinya sama. Menurut Abu Hayyan dalam kitabnya al-Bahr al-Muhith seperti dikutip Ali Hasan al-‘Aridh, tafsir adalah:

علم يبحث عن كيفيّة بألفاظ القرآن و مدلولاتها وأحكامها الإفرادية والتركيبية ومعانيها التى تحمل عليها حالة التركيب و تتمات لذلك .

Suatu ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafazh-lafazh al-Qur’an tentang petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri, maupun ketika tersusun, dan makna-makna yang dimungkinkan baginya ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapi (Ali Hasan al-‘Aridh, 1992: 3)

Menurut al-Zarkasyi tafsir secara istilah ialah:

علم يفهم به كتاب الله المنزل على نبيّه محمد صلى الله عليه وسلّم و بيان معانيه واستخراج أحكامه و حكمه

Suatu ilmu yang dipergunakan untuk memahami kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan menjelaskan makna-maknanya serta hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya (al-Zarkasyi, 1988: II, 163-164).

Dari beberapa defenisi yang dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa substansial tafsir itu adalah bagaimana memahami maksud-maksud al-Qur’an.

Kata muqaran merupakan mashdar dari kata  قارن – يقارن – مقارنة yang berarti perbandingan (komparatif). Walaupun masing-masing term tafsir dan muqaran memiliki arti yang berbeda tapi jika digabungkan, maka akan membentuk pengertian baru. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan tafsir muqaran adalah suatu metode atau cara dalam menafsirkan al-Qur’an. Untuk lebih sempurna dan komprehensifnya pemahaman tentang pengertian tafsir muqaran berikut ini akan penulis kemukakan beberapa definisi yang dirumuskan oleh ulama tafsir.

Menurut Muhammad Quraish Shihab tafsir muqaran adalah:

Membandingkan ayat-ayat al-Qur’an satu dengan yang lainnya, yaitu ayat-ayat yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua masalah atau kasus yang berbeda atau lebih. Dan atau membandingkan ayat-ayat al-Qur’an dengan hadis nabi Muhammad SAW yang nampak bertentangan serta membandingkan pendapat-pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran al-Qur’an (Quraish Shihab, 1995: 118).

Disamping itu, ada juga ulama tafsir yang mendefinisikan tafsir muqaran dengan :

Metode yang ditempuh oleh mufasir dengan cara mengambil sejumlah ayat al-Quran kemudian mengemukakan penafsiran para ulama terhadap ayat-ayat itu, baik ulama salaf atau ulama khalaf yang memiliki kecendrungan berbeda, baik penafsiran mereka berdasarkan riwayat yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, sahabat, dan tabi’in (tafsir bi al-ma’tsur), atau berdasarkan rasio (tafsir bi al-ra’yi) dan mengungkapkan pendapat-pendapat mereka serta membandingkan segi-segi dan kecenderungan masing-masing yang berbeda dalam menafsirkan al-Qur’an (Ali Hasan al-‘Aridh, 1994: 75)

Bila dibandingkan kedua definisi tersebut, definisi pertama terlihat lebih umum dan mencakup beberapa aspek tafsir, sedangkan definisi kedua hanya menjelaskan satu aspek tafsir saja di antara beberapa aspek yang telah dijelaskan pada definisi pertama. Dalam perkembangan selanjutnya, yang dibandingkan itu mencakup beberapa aspek, yaitu  ayat dengan ayat, ayat dengan hadis Nabi, pendapat para mufasir  dalam menafsirkan suatu ayat, bahkan juga perbandingan antara  al-Qur’an dengan kitab samawi lainnya.

RUANG LINGKUP

Secara global ruang lingkup pembahasan tafsir muqaran dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu  ayat dengan ayat, ayat dengan hadis, dan pendapat-pendapat berbagai mufassir. Namun dalam tulisan ini, hanya dikemukakan dua contoh saja, yaitu :

  1. Perbandingan ayat dengan ayat

Dalam ruang lingkup perbandingan ayat dengan ayat dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :

  1. Perbandingan suatu ayat dengan ayat lain yang membahas kasus yang berbeda tetapi redaksinya mirip. Sebagai contoh, perbandingan surat Ali Imran ayat 126 dengan al-Anfal ayat 10. Pada surat Ali Imran redaksi yang dipergunakan adalah:

َمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi kemenanganmu. Dan agar tentram hatimu karenanya, dan kemenangan itu hanya dari Allah yang maha perkasa lagi bijaksana.

Sedangkan dalam surat al-Anfal: 10 redaksi yang digunakan adalah:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan hanya kemenangan itu dari sisi Allah sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Redaksinya dua ayat di atas mirip, namun susunan kalimatnya berbeda. Ada tiga hal yang membedakan kdeuanya: (1) Pada ayat pertama terdapat lafazh  لكم  sesudah lafazh بشرى  sementara pada ayat kedua tidak ada. (2) Pada ayat kedua kalimat به ditempatkan sesudah lafazh قلوبكم sedangkan ayat pertama tidak memakai lafazh tersebut. (3) Pada ayat pertama kalimat به ditempatkan sesudah lafazh قلوبكم dan pada ayat kedua tempatnya sebelum lafazh  ولتطمئن به.

Setelah ditinjau secara historis melalaui asbab al-nuzul ayat, ternyata kedua ayat tersebut memiliki konteks yang berbeda. Ayat pertama surat Ali Imran ayat 126 diturunkan berkaitan dengan peristiwa perang Uhud, sedangkan ayat kedua surat al-Anfal ayat 10 diturunkan berkaitan dengan peristiwa perang Badar (Ahmad al-Wahidi, 1994: 115).

  1. Perbandingan satu ayat dengan ayat lain yang memiliki kasus atau masalah yang sama atau diduga sama dengan redaksi yang berbeda. Sebagai contoh ayat yang membicarakan tentang larangan membunuh anak karena takut kemiskinan. Dalam surat al-An’am : 151 redaksi yang digunakan adalah:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

Dan jangan kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kami yang akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.

Sedangkan redaksi yang digunakan dalam surat al-Isra’ : 31 adalah:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin, Kamilah yang memberi rezki kepada mereka dan kepadamu.

Kedua ayat di atas membicarakan kasus yang sama yakni, larangan membunuh anak karena takut miskin, namun redaksinya sedikit berbeda. Pada surat al-An’am kalimat yang dipakai adalah من, sedangkan pada surat al-Isra’ redaksi yang dipergunakan adalah خشية dalam bentuk maf’ul li ajlih. Di samping itu juga terdapat perbedaan lain yaitu: Pada ayat pertama digunakan lafazh نرزقكم dengan mendahulukan dhamir كم dan mengakhirkan dhamir هم dan pada ayat kedua menggunakan redaksi  نرزقهم dengan susunan sebaliknya.

Perbandingan perbedaan atau variasi redaksi dalam bentuk-bentuk lain. Disamping perbandingan kemiripan redaksi di atas, masih terdapat beberapa bentuk perbedaan atau variasi lain yang dijadikan objek kajian tafsir muqaran.

Sepintas melihat variasi redaksi ayat dan pengertian dalam bahasa Indonesia memang tidak tampak perbedaan yang esensial, tetapi bila dianalisa lebih mendalam melalui pendekatan kaidah bahasa Arab ditemukan penekanan (stressing) yang berbeda antara satu ayat dengan ayat lainnya.

2.  Perbandingan ayat-ayat al-Qur’an dengan hadis shahih

Yang dibandingan di sini adalah ayat-ayat al-Qur’an dengan hadis nabi yang terkesan memiliki pertentangan makna. Dalam hal ini mufasir berusaha mengkompromikan antara perbedaan tersebut. Perlu ditegaskan, hadis yang dijadikan objek perbandingan dengan ayat al-Qur’an adalah hadis yang terbukti berkualitas shahih. Sebagai contoh perbandingan ayat yang menjelaskan seseorang akan masuk sorga disebabkan amal perbuatannya. Firman Allah:

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Masuklah kamu ke dalam sorga dengan sebab amalan yang telah kamu lakukan.(Q.S.  Al-Nahl :32)

Ayat tersebut dibandingkan dengan hadis Nabi yang tentang tidak seorangpun yang akan masuk sorga, termasuk Nabi Muhammad, melainkan karena rahmat Allah.

Dari Aisyah ra dari Nabi Muhammad SAW bersabda: “Bersiaplah mendekatkan dan bergembiralah kamu, maka sesungguhnya tidak seorangpun yang masuk sorga karena amalnya”. Sahabat bertanya, tidak juga engkau ya Rasulullah?”, Nabi menjawab, “tidak juga saya kecuali Allah meliputiku dengan ampunan dan rahmat-Nya.(HR. Bukhari)

Secara zhahir, ayat dan hadis di atas kontradiksif, mufasir dituntut menemukan solusi dari permasalahan itu, dan inilah yang menjadi objek utama dalam tafsir muqaran dalam bagian perbandingan ayat al-Qur’an dengan hadis.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TAFSIR MUQARAN

Di antara keunggulan tafsir muqaran dari metode-metode lainnya adalah:

  1. Memberikan wawasan relatif lebih luas. Dengan melakukan penafsiran dengan metode muqaran ini akan terlihat bahwa suatu ayat al-Qur’an dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, sesuai dengan keahlian mufasirnya. Dengan demikian terasa bahwa al-Qur’an tidaklah sempit, ia sangat luas dan dapat menampung berbagai ide dan pendapat.
  2. Membuka pintu untuk bersikap toleran. Metode ini membimbing kita untuk selalu bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang terkadang jauh berbeda atau bahkan kontradiktif dengan pendapat kita. Dengan demikian dapat mengurangi fanatisme yang berlebihan kepada suatu mazhaf atau aliran tertentu. Sehingga umat terutama yang membaca tafsir muqaran memberikan berbagai alternatif pemikiran. terhindar dari sikap ekstrim yang dapat merusak persatuan dan kesatuan umat. Hal ini dimungkinkan karena penafsiran dengan metode ini
  3. Mengungkapkan ke-i’jaz-an dan keontetikan al-Qur’an. Pada penerapan metode muqaran terutama dengan melakukan perbandingan ayat-ayat yang memiliki redaksi yang mirip dalam kasus yang berbeda atau ayat yang memiliki kasus yang sama dengan redaksi yang berbeda dan berbagai variasi lainnya, seorang mufasir akan mampu mengungkapkan dalil-dalil keontetikan al-Qur’an, karena di balik redaksi atau kemiripan itu terkandung suatu pengertian yang sangat mendalam.

Pada akhirnya penafsiran akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa al-Qur’an itu memang bersumber dari Allah SWT, bukan ciptaan Muhammad seperti tuduhan sebagian orang Arab dan para orientalis. Al-Qur’an sebagai kitab yang memiliki keunggulan, baik dari segi sastranya yang indah maupun kandungan ilmu yang dimilikinya, sangat mustahil dapat dikarang oleh manusia yang serba terbatas. Pengungkapan hikmah-hikmah yang tersimpan di balik keindahan redaksi dan variasinya akan mampu melemahkan manusia untuk menandinginya.

  1. Membuktikan bahwa ayat-ayat al-Qur’an sebenarnya tidak ada yang kontradiktif.  Demikian juga antara al-Qur’an dan hadis shahih. Seorang mufasir akan mampu membuktikan bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu sebenarnya tidak ada yang kontradiktif,  walaupun secara tekstual terlihat saling berseberangan. Namun bila diteliti secara mendalam, baik melalui analisa bahasa, asbab al-nuzul atau aspek-aspek yang lain, maka akan terlihat bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu tidaklah bertentangan, bahkan saling mendukung dan saling menguatkan. Demikian juga antara al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad tidak ada yang bertentangan, karena hadis merupakan penjelas (mubayyin) al-Qur’an. Nabi Muhammad itu sendiri sebagai sumber hadis dalam segala aktifitas dan sikapnya selalu berlandaskan kepada al-Qur’an.
  2. Dapat mengungkapkan orisinalitas dan objektifitas mufasir. Dengan melakukan perbandingan antara penafsiran-penafsiran terhadap satu ayat atau sekelompok ayat yang memiliki tema yang sama, maka kita dapat menemukan keaslian (orisinalitas) tafsiran seorang mufasir, karena terkadang sebagian mufasir hanya mengutip pendapat ulama tafsir sebelumnya dan bahkan juga terdapat ketidakjujuran dalam mengutip suatu pendapat.

Mufasir juga dapat melihat kecendrungan-kecendrungan dalam menafsirkan ayat, karena dari hasil tafsiran akan terlihat kecendrungan yang mempengaruhinya, apakah kecenderungan itu karena pengaruh disiplin ilmu yang di dalaminya, seperti ilmu fiqh, tasawuf, filsafat atau kecendrungan mazhab syi’ah, khawarij, mu’tazilah, ahlu sunnah dan lain-lain. Hal ini disebabkan amat sulit sekali bagi mufasir untuk membebaskan diri dari unsur  subjektifitas yang sangat integral di dalam dirinya.

  1. Mengungkapkan sumber-sumber perbedaan pendapat di kalangan mufasir atau perbedaan pendapat di antara kelompok umat Islam.
    1. Menjadi sarana pendekatan (taqrib) di antara berbagai aliran tafsir. Di sampin itu ia juga dapat mengungkapkan kekeliruan mufasir sekaligus mencari pandangan yang paling mendekati kebenaran (Haidar Baqir, 1990: 25). Dalam kata lain, seorang mufasir dapat melakukan kompromi (al-jam’u wa al-taufiq) dari pendapat-pendapat yang bertentangan atau bahkan men-tarjih salah satu pendapat yang dianggap paling benar.

Di antara kekurangan atau kelemahan tafsir muqaran menurut Nasharuddin Baidan( 1998: 143) ialah:

  1. Penafsiran dengan menggunakan metode muqaran tidak dapat dilakukan oleh pemula, seperti mereka yang sedang belajar pada tingkat sekolah menengah ke bawah. Hal ini disebabkan pembahasan yang dikemukakan terlalu luas dan kadang-kadang terlalu ekstrim, konsekuensinya tentu akan menimbulkan kebingungan dan bahkan mungkin bisa merusak pemahaman mereka terhadap Islam secara universal.
  2. Metode tafsir muqaran tidak dapat   diandalkan untuk menjawab problema-problema sosial yang sedang tumbuh di tengah masyarakat karena metode ini lebih menekankan perbandingan dari pada pemecahan masalah.
  3. Metode tafsir muqaran terkesan lebih banyak menelusuri tafsiran-tafsiran yang pernah dilakukan ulama dari pada mengemukakan pemikiran baru. Sebetulnya kesan serupa itu tidak akan timbul jika mufasir kreatif, artinya penafsiran tidak sekedar mengutip tetapi juga dapat mengaitkan dengan kondisi yang dihadapinya, sehingga menghasilkan sintesis baru yang belum ada sebelumnya.

LANGKAH OPERASIONAL PENERAPAN TAFSIR MUQARAN

Dalam menerapkan metode tafsir muqaran ada beberapa langkah sistematis yang dapat dilakukan sesuai dengan objek perbandingan. Dalam melakukan perbandingan ayat dengan ayat, langkah yang ditempuh sebagai berikut:

  1. Menginventarisir ayat-ayat yang memiliki kemiripan redaksi dan kesamaan masalah, langkah ini dapat dilakukan dengan meneliti langsung ke dalam teks-teks al-Qur’an. Disamping itu mufasir mungkin bisa merujuk kepada kitab-kitab seperti:  Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an,  Fath al-Rahman, Ensiklopedi al-Qur’an dan lain-lain.
  2. Mengklasifikasikan ayat-ayat yang memiliki kemiripan redaksi atau kesamaan masalah. Pada tahapan kedua ini mufasir melakukan pengelompokan mana ayat-ayat yang memiliki kemiripan redaksi dalam kasus yang berbeda atau yang memiliki kesamaan masalah,  kasus atau redaksi yang berbeda, atau hanya dari perbedaan aspek susunannya (uslub) saja. Tahapan ini juga dapat dibantu dengan melacak asbab nuzul ayat atau meneliti korelasi (munasabah) ayat tersebut dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, atau dengan mencari tema dan konteks umum ayat itu.
  3. Membandingkan dan menganalisa ayat-ayat yang memiliki redaksi yang sama dalam kasus yang berbeda, atau kasus yang sama dengan redaksi yang berbeda dan  ayat yang memiliki perbedaan dari segi susunannya saja. Dalam melakukan perbandingan dan analisa, pisau analisis yang paling urgen digunakan adalah ilmu bahasa Arab seperti, ilmu nahwu, saraf, balaghah, dan cabang-cabang ilmu bahasa Arab lainnya. Analisis juga dapat diperkuat dan dipertajam dengan memperhatikan pendapat-pendapat yang telah ada tentang objek yang bahas.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul, Ghani, Bustami (ed), Tafsir Qur’an dengan Metode Maudhu’i : Beberapa Aspek Ilmiah al-Qur’an, Jakarta:PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 1994 cet ke 2

Al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’i, diterjemahkan oleh A. Jumrah, judul asli: al-Bidayah fiy Tafsir al-Maudhu’i : Dirasah Manhajjah Mauhu’iyah, Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet ke 2.

Al-Arid, Hasan  Ali,  Sejarah dan Metodologi Tafsir, diterjemahkan oleh Ahmad Akram, judul asli: Tarikh Ilm al-Tafsir wa Manahaj al-Mufassirin, Jakarta:Rajawali press, 1992, cet ke 2

Baqir, Haidar, Metode Komperasi Dalam Tafsir al-Qur’an, al- Hikmah  2, Juli, 1990

Al-Qatthan, Manna, al-Khalil, Mabahits Fiy ‘Ulum al-Qur’an, Riyad: Mansyurat al- ‘Ashar al-Hadits, 1973

Al-Sabti, Khalid bin Usman, Qawa’id al-Tafsir, Mekah: Dar  Ibn ‘Affan, 1997, jilid I

Al-Suyuthi, Jalaluddin, al-Itqan Fiy ‘Ulum al-Qur’an, Mesir: Percetakan al-Azhar, t.th, jilid II

Al-Wahidi, Ali Ibn Ahmad, Abu al-Hasan,  Asbab Nuzul al-Qur’an, t.tp: Dar al-Qiblah, 1994, cet ke 3

Zahabi, Husain   al-Tafsir wa al-Mufassirun, t.tp: t.pn, , 1976, jilid I

Al-Zarkasyi, al-Burhan Fiy ‘Ulum al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikri, 1988, jilid I

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: